Puisiku Deritaku
Illustration by lukman
Oleh : Laskar Badar Muhammad
-
aku darah yang percuma tanpa denyutmu,
aku nafas yang hilang tanpa oksigenmu,
aku pelangi cacat tanpa warna-warnimu,
aku layang-layang lumpuh tanpa tiupan anginmu,
aku biola bisu tanpa bunyi dawaimu.
***
Darahku tak lagi mengalir,
kuraba denyutku terasa hanya segelintir
Nafasku terasa sesak,
sesaat kutau tabung oksigenku mulai retak
Pelangiku menghitam legam,
terlihat warna warniku terbang diam diam
Layang-layangku tak ada yang main,
tersadar tiupan anginku meniup layang-layang lain
Biolaku tak terurus,
tak berguna pula jika dawai-dawainya putus
***
Jadilah tubuhku berisi genangan darah, setiap genangannya berisi serpihan kaca harapanku yang pecah
Dadaku semakin menyempit, setiap tarikan nafasku justru menghimpit dan melilit dengan jutaan rasa sakit
Pelangiku bukan lagi pelangi, warnanya menusuk mata, merobek wajah, mengoyak hati tanpa rasa manusiawi
Layang-layangku, kasihan ia, lapuk batang bambunya, sobek kertasnya bercerai berai terlumat air mata kecewa
Biolaku jadi gila, dawainya putus terpelanting menyambuk kulitku, lukanya menganga mengeluarkan tetesan derita
***
Perlahan kubangun lagi sebuah harapan
Walaupun kutau pasti, bangunan itu berhias kecacatan, diselimuti kerapuhan, berdiri di atas bayang-bayang kehancuran
Lilitan dan himpitan di dadaku berakhir sudah
Akibat perlawananku yang diganggu susah, ditemani payah, dikepung pasrah, dan harus kurelakan sebagian tulang rusuk dan igaku patah
Setengah mati kuwarnai pelangiku itu
Merahnya dari tetesan darahku, kuningnya dari genangan nanahku, hijaunya dari air mataku yang kini berubah menjadi empedu
Layang-layangku akhirnya kembali terbang
Kuhabiskan ribuan gulungan benang, puluhan kebun bambu rata kutebang, pada akhirnya ia terbang sendirian bertiupkan angin bimbang
Kubiarkan biolaku tak berdawai
Aku takut jika kugesek akan mengalunkan senandung penderitaan yang tiada usai
Solo, 17 Agustus 2020
www.instagram.com/laskarbadmuh
Solo, 17 Agustus 2020
www.instagram.com/laskarbadmuh

Komentar
Posting Komentar